Edu

Balada Bumi Papua (opini)

Artikel berikut sebetulnya adalah posting status di facebook (di grup PERSAKMI). Sesuai judul, tulisan ini adalah opini pribadi, tulisan ini ditujukan untuk memberikan perspektif tambahan (di bidang kesehatan) terhadap tulisan “Terlalu Dini Bokondini; Catatan Perjalanan ke Kabupaten Tolikara” yang dapat dibaca di goo.gl/8pzN9a.  Kesalahan tulisan/singkatan sengaja saya biarkan apa adanya karena sebagaimana diawal, bahwa tulisan ini adalah “posting”-an di facebook.

===

From detik magazine – Jokowi memecahkan rekor dengan melakukan kunjungan sebanyak 2 kali ke Papua hanya dalam waktu 5 bulan, dalam kunjungannya juga memberikan dana pembangunan infrastruktur sebanyak 6 triliun. Menurut Laksda (purn) Soleman B. Ponto, permasalahan di Papua adalah permasalahan fisik dan permasalahan mental & budaya. Permasalahan fisik (pembangunan utamanya) bisa diselesaikan dengan dana pembangunan triliunan (entah bermaksud tulus atau mengandung udang dibalik batu). Sebaliknya pembangunan mental & budaya sangat sulit… Gk akan mungkin selesai dalam 1 periode pemerintahan… Bahkan mungkin butuh waktu selama 1 generasi. Akan lebih baik kalau pembangunan mental & budaya juga melibatkan juga pakar antropologi, psikologi sosial, sosiologi, budayawan lokal, dsb. Saya sendiri kurang tahu apakah kalangan tersebut dilibatkan dalam era otsus seperti sekarang ini. Prof Astrid S. Susanto & Prof Meutia Hatta adl contoh bbrp ilmuwan yg sangat mendalami permasalahan sosial di Papua.

Saya pribadi memandang bahwa Papua adalah contoh masyarakat yang mengalami ‘lompatan budaya’. Dulu jaman SMA (entah waktu belajar sosiologi/antropologi) diperkenalkan bahwa manusia mengalami beberapa tahapan seperti masa berburu & meramu, masa bercocok tanam, hingga masyarakat siap masuk ke era industri. Tanpa bermaksud merendahkan masyarakat Papua, jika merunut sejarah Papua dari jaman Belanda (hingga hari ini, silahkan di googling) terutama dari sisi sejak ditemukannya kandungan tambang yg luar biasa maka kita akan mahfum bahwa korporasi yang hadir ditengah-tengah bumi Papua adalah konsekuensi yang siap tidak siap harus dihadapi oleh bumi Papua. Bahwa pemerintah & korporasi yang meneken kontrak kerjasama hanya siap terhadap ‘sumbangan’ pembangunan fisik tetapi miskin dalam pembangunan mental & budaya. Bahwa saudara-saudara kita (yang menurut saya masih dalam taraf berburu & meramu) ‘dipaksa’ untuk memasuki budaya industri. Bahwa (mungkin ada) sebagian saudara kita di Papua secara budaya tidak siap untuk menghadapi era/masa baru yang lahir karena hadirnya ‘korporasi’ di bumi Papua. Fenomena inilah yang saya sebut ‘lompatan budaya’. Misalnya untuk masyarakat yang berada pada tahap berburu dan meramu, kebutuhan hari ini ya dicari hari ini, hasil buruan hari ini ya untuk makan hari ini…. Untuk besok, dipikir besok. Bandingkan dengan konsep ‘modern’ seperti perilaku stok/menyimpan makanan, budaya menabung (dengan tujuan proteksi untuk hari esok) – perilaku seperti ini tidak ada dalam masyarakat yang masih berada dalam tahap berburu & meramu. Beberapa saudara kita di Papua yang akhirnya ‘terpaksa’ harus bekerja di sektor industri/sektor lain dengan penghasilan yang menggunakan konsep ‘gaji’ diawal/akhir bulan, setelah gajian ada yang dihabiskan hanya untuk (mohon maaf) senang-senang dalam hal ini adalah minuman keras & perempuan (bahkan PSK dari pulau lainpun telah meng-invasi Papua).

Dari aspek kependudukan, belum lagi kalau kita mengaitkan interaksi antara pelaku migran (kaum pendatang) dengan masyarakat lokal. Pelaku migran dari daerah asalnya akan membawa nilai-nilai budaya, adat istiadat, nilai sosial yang saling mempengaruhi dengan nilai-nilai lokal. Terjadi dominasi budaya ataukah terjadi perpaduan budaya yang ‘cantik’?. Apakah ada perilaku kesehatan pelaku migran yang mempengaruhi masyarakat lokal? Bagaimana peran paparan teknologi informasi & komunikasi dalam manfaatnya utk menyediakan informasi bagi masyarakat Papua, apakah memberi dampak positif/negatif?. Bagaimana perilaku belanja APBD dan dana otsus dari pemkab/pemprov Papua? Masih banyak yang menurut saya harus dijawab dari situasi di Papua.

Tulisan Pak ADL ‘Terlalu dini di Bokondini’, menurut saya adalah bagian kecil dari peristiwa sosial yang terjadi di bumi Papua. Saya pribadi melihat banyak tulisan/opini yang mendudukkan masyarakat Papua adalah ‘korban’, seakan-akan masyarakat Papua tidak berdaya ditengah-tengah gempuran kemajuan jaman dan perang kepentingan. Opini saya inipun, mungkin tidak lepas dari syak wasangka yang sudah saya sebutkan tadi. Tetapi saya percaya bahwa ada individu-individu digdaya dari putra/putri Papua yang sanggup untuk merubah wajah Papua. Apalagi selaku pendidik, masih banyak cerita yang sebetulnya bisa saya bagikan misalnya program ADIK PAPUA (Afirmasi Pendidikan Tinggi untuk Papua), tapi krn mnrt saya kurang relevan ya tidak usah saya tulis disini 🙂

Sebagai penutup tulisan, sebagai praktisi keshmas apakah ada yg siap berjuang selama misalnya satu generasi untuk perubahan mental & budaya (wa bil khusus di bidang kesehatan) untuk saudara kita yang ada di Papua seperti yang sudah di ulas di majalah Detik diatas?

Tags
Skip to toolbar